14 October 2009
SUATU PADANG
di suatu padang, reruntuh
gedung dan ribuan orang
berpulang
menjumpaimu, suatu
pertemuan belum
terlunaskan
“ah, kakak sayang,
maafkan, maafkan
petang ini dijemputnya aku
untuk satu janji yang
tak dapat lagi dibatalkan”
dan sampailah juga aku
di suatu pandang, tanah
lapang dan puing tempat
kembali dari perjalanan
yang sebentar
“ah, kakak sayang
tetap jua kutunggu engkau
di satu padang
tempat kelak kita
akan dibangkitkan”
(7 Oktober 2009)
11 September 2009
1 JANUARI, DEKAT PAGI
pada sujud yang keberapakah
bolamatamu kemilau basah
seperti bening cahaya mata
anak-anak Palestina
sementara kembang api di luar sana
belum juga berhenti pesta
dan engkau terbata-bata
menzikirkan derak roda
tank para penjarah
pada dentuman keberapakah
ketika matamu terjaga
oleh suara,
”kemenangan!
kemenanganlah di depan kita!”
dan engkau menadahkan tangan
selemah-lemah senjata
(2009)
SEHELAI MAKLUMAT
DI DINDING TOSERBA
: AZ
demikian
cepat
waktu, tempat-tempat
usia, kita
lewat
(2009)
18 August 2009
RIWAYAT OEY, SERANGKAI SAJAK
menangkap getaran hujan pertama
bumiku luluh dalam cinta
bau tanah basah
dan cerita kecil masa bocah
bermain dalam hujan
kesegaran yang tak pernah
— atau tak mungkin lagi
kini dipunyai
makin dewasa kini
cerita kecil masa kecil
cuma bayang manis
semoga masih diceritakan kelak
pada anak dan cucu
berjalan dalam hujan pertama
aku mengalir dalam udara
cerah matahari dan daun-daun
bergetaran
di bingkai jendela
kulupakan berita dunia di lembaran warta
dan layar kaca
hujan
baru tiba sesaat tadi
tanah basah dan debu-debu kembali
ke asalnya:
Tuhan beserta semua
(Anyer, 10-90)
SURAT KESUNYIAN
— bagi Yun Ts.
kesunyian ini, kekasih
taman eden yang permai
(bila kita tak juga bercakap
cuma bertatapan
dalam kegamangan dan pengertian
yang tak terucapkan)
cinta mulanya: kesunyian ini
lalu ikrar yang suci
“kupasrahkan rusukku demi engkau,
kekasih”
dan Tuhan meniupkan: jadilah!
maka jadilah
(saat itu, aku mungkin mimpi bulan
jatuh di pangkuan,
dan kukenal itu, kesunyian taman
yang menyejukkan)
begitulah, kekasih
bila kita tak mampu juga bercakap
biarkan saja kegamangan,
menjadi pengertian tak diucapkan.
Dalam taman itu: kesunyian
(Bandung, 91)
GADIS BERMUKA BULAN
— tentang gadis kekasihku
gadis bermuka bulan
dan kegenitan bunga liar dalam senyumnya
dalam matanya adalah kekuatan
: hidup adalah keindahan masa sekarang
dan harapan-harapan akan datang
gadis bermuka bulan
ia menerawang
: biarkan waktu berlarian, lenyap
di belakang
biarkan peristiwa lalu dalam catatan
berjalanlah menuju bahagia
(ya, selalu kita percaya
yang akan Ia berikan)
(Bandung, 23-05-91/21-11-92)
BUNGA
—Yoen Ts.
yang kusemai dahulu
di taman kesunyian
berbungalah sudah
wanginya selalu
mengalir dari sela jendela
yang kutanam sebagai janji
tumbuhlah jua
mengarungi masa
semerbaknya senantiasa
mengetuk pintu kamar kita
(2006)
SEKUNTUM SAJAK
— diskusi pagi dengan istriku
sekuntum sajak
yang bertunas di taman hatiku
diselimuti matahari kasih
disirami hujan sayang
sekuntum sajak
yang mekar di taman jiwaku
tanahnya dukalara
pupuknya airmata
sekuntum sajak
yang gugur di taman cintaku
catatan dalam buku harian
warisan bagi anak-anakku
(2006)
MOMEN BIASA
kita berpandangan cuma
menakar rasa cinta
menebak dalam rindu
senyummu tawar
engkau mengenang siapa?
tawaku hambar
siapa bisa mengukur setia?
(2006)
DI THAMRIN, JAKARTA
aku ingin
menulis sebaris puisi saja
pada engkau hari ini
setelah sepanjang hari
berdiam dalam riuh rendah suasana
jalanan yang panas,
gemericik air mancur dan hijau
tanaman hias
yang lenyap dalam uap aspal
panas yang mengambang di udara
kota
aku ingin melagukan
sepenggal rayuan pada engkau
siang ini
di antara orang-orang melangkah tergesa
dengan dasi melambai ditiup angin,
bus yang tak pernah berhenti,
dan lalu lalang tanpa henti
aku ingin sekali
menorehkan sekadar sapaan
pada suasana yang telanjur
tergesa dan lupa
pada engkau yang terpesona
di sisi jalan
kota
(Bandung, 11-08-92)
MENANAM SEBATANG MANGGA
— obrolan Minggu pagi dengan isteriku
menanam sebatang mangga
di halaman yang sempit
di tengah hamparan bangunan
yang kian hari meluas tak terkira
menanam sebatang mangga
sembari mengingat dongeng nenek
tentang dunia peri-peri dan alam yang berseri
cuaca hijau penuh tumbuhan
dan alam terasa segarnya
menanam sebatang mangga
membayangkan anak-anak yang bermain
di bawah rimbun daun-daunnya
(semoga, anak-anak kita
masih dapat merasakannya)
menanam sebatang mangga
mengharapkan seekor burung
bersarang dan bertelur di atasnya
dan kicauannya pagi hari
meningkahi keriuhan suara kota
menanam sebatang mangga
sambil membayangkan semua tetangga
berbuat serupa
(Bandung, 04-94)
PELABUHAN KECILKU YANG TENANG
pelabuhan kecilku yang tenang
mata yang teduh
tempat berlabuh
(16 Agustus 2006)
YANG PALING PERTAMA
— kado untuk Yoen Ts.
maaf, bila cintaku terlalu berlumur kata-kata
dan suatu ketika kau sebut itu
dusta belaka
ingin sekali, hanya kupeluk rindumu
dalam sepi seperti
ketika pertama berjumpa
aku terjerat senyum yang terkesima
cinta kini telah jadi prosa
diguncang bimbang diguyah resah
gelisah jadi sembilu
karena janji yang disepuh mimpi
untuk itu, kekasih
kukenang selalu jumpa yang paling pertama
ketika aku terpesona
pada wajahmu yang tersipu
menyimpan cinta yang tak ternyana
puisi saja
(2006)
INTERLUDE
— Oey
memang hanya cemburu
yang mampu merenggutku
dari kabut yang bersaput rindu
(2006)
MEJA MAKAN YANG DINGIN
kletak-kletik piring
sendok beradu
seperti nyanyi sunyi
angin menyayat sampai pagar
meluruk hingga Februari
resonansi sepi
hujan mengiris sampai teras
percik luka hati
tak sudi pergi
(2007)
ALBUM LAMA: SEPANJANG TENGKU UMAR
Engkaukah yang menjenggut lenganku dalam hujan-angin itu?
Kau tahu, payungmu tak pernah cukup untuk kita. Selalu. Maka merapatlah padaku. Lingkarkan lengan di pinggangku. Aku akan mengutip entah siapa, mengusir ragu. Tapi, tak perlu engkau pura-pura mendengarku. Hujan-angin itu terlalu gaduh! Cahaya lampu-lampu jalan pun hanya nyala kunang-kunang. Jadi, dekatkan saja wajahmu..
Kau tahu, aspal telah jadi sungai, perasaan kita pun mengalir ke muara mana. Pada siapa engkau sesungguhnya menaruh senyap? Sementara tombak-tombak hujan menikam seru, payung kita selalu terombang-ambing ragu. Aku membisikkan tanya, mengulangnya entah untuk siapa. Tapi hujan-angin rusuh, kata-kataku tinggal rapuh. Jadi, dekatkan saja perasaanmu..
Kau tahu, pohon-pohon telah jadi batu, masa lalu pun tersapu hujan-gaduh itu. Kepada siapa aku harus menabalkan janji? Selain pada kenangan—mungkin selembar catatan bersamamu. Tapi hujan-rusuh dan angin-hingar, enggan mendengar rayuan. Yang kukatakan cuma gumam. Maka, dekatkan saja hatimu..
(2007)
WILAYAH MENDUNG
: Pagi murung dengan istriku...
Bahkan wajahmu tetap saja rembulan bagiku. Meski pagi mendung, kabut merundung. Kristal waktu jatuh seperti bulir-bulir padi, bernas serupa emas. Pagi ini takdir menerobos lewat genting kaca, matahari yang tersengal, seperti engkau di situ yang terpenggal. Kau adukan semua pada airmata. Dan aku, dapatkah aku setabah gunung batu? O, sayangku, cintaku, kekasihku.
Betapa dingin waktu. Ia menerobos kamar tanpa ketuk pintu. “Masih terlalu pagi untuk murung,” kataku. Tapi bagaimana aku dapat sembunyikan ragu. Matamu basah, gemuruhnya jatuh ke muara-muara. Rambutmu luruh, lambaiannya jauh ke ngarai-ngarai duka. Betapa sendunya waktu, kekasihku.
“Masih terlalu pagi untuk mendung,” kataku. Tapi bisakah aku memenjara kecewa? Memendamnya ke sebuah lubang hitam, menghimpitnya jadi zarah atom semesta. Dan suatu ketika ia meledak jadi semesta baru yang hanya cinta. Ah, betapa menyiksanya menunggu, kekasihku.
“Duh, terlalu mendung, terlalu murung,” katamu. Sajak-sajakku tersekat di udara, tak bisa menggambar apa, tak bisa menggapai mana. Namun wajahmu rembulan, tenang sedalam purnama. Dingin waktu tak pernah bisa menenggelamkannya.
(2007)
NONG DI SEBUAH TITIK
Di sebuah titik, Nong, ruang berpendar. Engkau lupa berulang tahun hari ini? Anakmu tersipu-sipu menggoda, Ibu ulang tahun ya? Engkau tertawa, di rumah ini selalu ada hadiah yang istimewa, sekristal bening cinta. Kami setuju, semua yang terkembang dan celoteh kita hanyalah cinta belaka.
Di sebuah titik, Nong, waktu memudar. Kita duduk berdua, bertatap saja, lalu percakapan ringan selembut udara. Terdengar suara jingga, anakmu berlagu, Tidurlah, selamat malam, lupakan sajalah aku.*) Lupakan, lupakan segala yang jauh dan samar. Kita bahagia, seperti sekuntum senyum, dikulum ketika beranjak tidur.
Di sebuah titik, Nong, ruang-waktu bergetar. Wajahmu beriak, aku tahu hatimu berkecipak. Aha, inikah jejak cinta! Engkau pun beranjak, Berhentilah menjebak, kakak..
Di sebuah titik, Nong, semesta cinta-Nya terus bergerak.
(16 Agustus 2007)
-----------
*) Bait lagu “Bersama Bintang” dari kelompok Drive.
23 July 2009
SEPILIHAN SAJAK, UNTUK ANAK-ANAK

ALBUM BUAHHATIKU
— Fathia Ramadina, 12 Maret 2007
Pertengahan malam. Engkau masih sibuk dengan buku-buku. Jarimu menulis entah apa. Televisi menyala di ruang jauh, engkau sayup-sayup berdendang. “Jangan matikan lampu itu,” gerutumu. Hei, masih takutkah engkau pada gulita? “Tidurlah,” kataku. Malam sudah larut, suara televisi jauh, dan elusan tangan ibu. Aku mengulang lagu pengantar tidur ibuku, buahhatiku..
Permulaan pagi. Sekarang, duabelas tahunkah usiamu itu? Engkau terkikik waktu ibu menciummu, menggulung seperti bayi di ranjang kami. Waktu, ia seperti segan beranjak dari kamar ini. Masih terkenang bau melati, buahhatiku. Beserta senyumku dengan seporsi besar kopi pagi. Dan engkau berceloteh di sudut, bahasa bayi, “tat.. tia.. tat.. tia..” Kini engkau menggesahku, “Hari ini upacara bendera.”
Pertengahan hari. Aku tenggelam dalam sibuk sendiri. Ibu, mungkin mencuci, mungkin menonton televisi. Lalu suaramu yang bayi membelai siang dengan riang, “Nanti aku pulang telat, mengerjakan tugas kelompok.” Tuhanku, aku mendoakan dunia lapang seluas padang untuk buahhatiku.. Di setiap tempat, pada setiap waktu, selalu.
Sore, hujan tak juga henti. Aku rindu celotehmu, bertanya apa ini-apa itu, mengapa ini-mengapa itu. Dari jauh, bergetar doa ibu di tikar sajadah, “Mengapa engkau belum pulang, buahhatiku..” Ibu, ibu, kuatkan hatimu untuk rindu. Ini masa sudah berganti, bersiaplah mengantar anakmu pergi.
Malam hari. Tergesa aku memacu rindu, membalap hujan yang tak sabar. Membuka pintu, ah alangkah mata, alangkah binar, engkau buahhatiku.. Dan kau acak lagi tas kerjaku yang mengunggun resah, sejak dulu. “Puisi lagi, puisi lagi,” engkau memajukan bibir, seperti ibumu. Kau tarik sehampar kertas dan kau pun asyik sendiri. Televisi menyala di masa yang jauh, kudengar sayup gerutumu, “Mana pesananku. Apa yang sesungguhnya kau ingini, sayangku?
(2007)
BERANJAK DEWASA
— Tia, Nea, Bia
pernah kami bayangkan, anakku
kau beranjak dewasa
tak lagi dibuai, tak bisa ditimang
tak sudi dibelai, tak mau disayang
tapi, cinta kami pedoman, anakku
yang selalu menuntun ke tujuan
memandu di laut kehidupan
doa kami angin buritan
yang membelai pundak kapal
mengantarmu ke dermaga
pelabuhan harapan
(2006)
SUARA SEPATU ANAKKU
: Fathia Ramadina, 1996
nyit nyit, suara sepatu anakku
berjinjit tak kenal henti
kaki ringan wajah riang
terkenang-kenang
nyit nyit, suara sepatu anakku
di taman bekas hujan
kaki basah wajah sumringah
terbayang-bayang
nyit nyit, suara sepatu anakku
masa depan terhampar
kaki tegar wajah segar
dalam doa, terulang-ulang
(2006)
MENGGAMBAR HUJAN
— untuk Zara
mari sayang, menggambar hujan
biarkan krayonmu menari
: merah, kuning, hijau
merah sumringah, kuning berdenting, hijau mengimbau
mari sayang, menggambar hujan
biarkan jarimu berjingkat
: garis dan lengkung
garis hati yang lurus
lengkung sikap yang lapang
mari sayang, menggambar hujan
biarkan khayalmu bebas bersayap
: melangit lepas
(2006)
DOA UNTUK EUGENIA
bagai sinterklas
aku merapal doa
ke kaus kaki natalmu
bukalah:
barangkali dapat kubagi
sepercik cinta—
hadiah terbaik
yang dianugerahkan Tuhan
kepada kita
(2007)
ISTANA KUE
zara, “ini istana kue!”
wajahmu memerah apel muda
rambutmu lempang ekor kuda
pagi ini kita akan pergi
ke kerajaan kue sehari
istana dilingkung hutan langking
menaranya tangkai ceri
anak tangganya repih cokelat
zara, “ini kerajaan kue!”
merah ceri seceria lincah jari
kerat cokelat segelap pagi menyemburat
siang ini kita berlari
ke adonan tepung berpucuk nyala api
mandi lumpur di tengah gerimis
kelak akan menjadi mimpi manis
zara, “ini dunia kue!”
nyala yang ingin melingkup semesta
tapi sadar batasnya cahaya
sore ini kita mencari
remah-remah tersisa
seserpih cokelat sesomplak ceri
bekal buat kemudian hari
zara, “ini penjara usia!”
bayang-bayang yang memanjang
mendekat senja
(2006)
(Sajak-sajak ini termuat dalam kumpulan sajak Album Buahhatiku: Sepilihan Sajak 1991-2007, Bejana, Cet. ke-3, 2009)
18 June 2009
ANUGERAH PUISI CECEP SYAMSUL HARI 2009
’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’ berupa uang tunai sebesar Rp 7.000.000,- (Tujuh Juta Rupiah) dan sebuah piagam penghargaan, akan diberikan kepada satu pemenang yang buku kumpulan puisinya dinilai juri sebagai buku kumpulan puisi terbaik 2009.
Bertindak sebagai juri tunggal untuk ’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’ adalah penyair dan redaktur majalah sastra Horison Cecep Syamsul Hari.
Juri hanya akan menilai buku kumpulan puisi yang dikirimkan melalui pos oleh penyairnya sendiri disertai surat pengantar penyair yang bersangkutan yang menyatakan bahwa bukunya dikirim untuk diikutkan dalam penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2009 (’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’). Buku kumpulan puisi yang dikirimkan melalui pos bukan oleh penyairnya sendiri dan/atau tidak disertai surat pengantar penyair yang bersangkutan tidak akan diikutkan dalam penilaian.
Beberapa ketentuan ’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’:
1. ’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’ terbuka untuk seluruh penyair berkewarganegaraan Indonesia yang menulis dalam bahasa Indonesia (baik berdomisili di dalam maupun di luar negeri). ’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’ tertutup bagi juri.
2. ’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’ hanya berlaku untuk buku kumpulan puisi tunggal yang ditulis dalam bahasa Indonesia, bukan buku antologi puisi maupun buku puisi terjemahan.
3. Para penyair Indonesia dipersilakan mengirimkan melalui pos lebih dari satu judul buku kumpulan puisi untuk diikutkan dalam penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2009 (’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’) sepanjang terbit antara 1 Januari s.d. 31 Desember 2009.
4. Buku kumpulan puisi yang diikutkan dalam penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2009 (’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’) diterima paling lambat 1 Februari 2010, dikirimkan melalui pos ke: ’ANUGERAH PUISI CECEP SYAMSUL HARI 2009’, Jl. Raya Cibabat No. 357, Cimahi 40522, Jawa Barat.
5. Di dalam sampul depan amplop surat atau di dalam surat pengantar keikutsertaan penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2009 (’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’) mohon disertakan alamat surat pengirim, email, nomor telefon/HP yang dapat dihubungi dan nomor rekening bank.
6. Buku kumpulan puisi yang dinilai juri sebagai buku kumpulan puisi terbaik 2009 dan berhak sebagai pemenang ’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’ akan diumumkan pada 1 Mei 2010 melalui website: www.freewebs.com/cecepsyamsulhari, Facebook, dan media lain. Penilaian dan keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.
7. ’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’ berupa uang tunai sebesar Rp 7.000.000,- (Tujuh Juta Rupiah), akan dikirimkan ke nomor rekening bank pemenang pada hari kerja berikutnya. Sementara piagam penghargaan ’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’ akan dikirimkan melalui pos ke alamat surat pemenang.
Cimahi, Juni 2009
Cecep Syamsul Hari
01 June 2009
SAJAK-SAJAK DI HARIAN JURNAL NASIONAL

PERCAKAPAN SAAT MAKAN
Sebentang wilayah telah kau petakan di meja. Lalu, engkau aman berkata, “Mari kita makan.” Sesekali tanganmu menerobos sempadan, tak peduli padaku yang senyum-senyum sopan. “Yang itu kurang bumbu, yang ini kebanyakan cabai, yang anu kurang adonan...” Ah, yang manakah dalam hidupmu yang tepat takaran?
Selembar cerita panjang-lebar kau hamparkan di meja. Lantas, engkau senang tertawa, “Menurutmu bagaimana?” Aku hanya seorang kawan makan yang terpesona, pikiranku entah ke mana. Maka kujawab saja, “Ah, memang begitulah manusia.” Mula-mula engkau tertawa, lalu tersedak soto daging yang kebanyakan cabainya. “Kamu, gila. Ceritaku itu tentang peliharaan Si Anu.” Aku tersengat aroma tauco, tak mau kalah kata, “Ah, kucing juga manusia.”
Sehampar dongeng antah-berantah kau tunjukkan dari laptop. Tergelak-gelak engkau bersendawa, “Menurutmu siapa?” Aku hanyalah teman duduk yang bijaksana, tenang tanpa cakap yang membahana, “Apa-siapa-mengapa, apa peduli kita?”
Engkau tarik napas, tak sepenuhnya lega. Sementara aku telah mengendapkan segala makna. Akulah teh tawar di meja, hangat sebagai kawan bicara.
Lalu, kubiarkan kesalmu datang juga. Kau tuntaskan makanmu segera, bersungut-sungut, “Dasar, teh tawar memang bukan manusia.”
(2007)
BERSAMA SENJA
: meminjam senja Jokpin
akhirnya dapat juga
kami minum teh bersama
di tepi jendela
senja sedang cantik-cantiknya
habis mandi
setetes air masih turun
di anak rambutnya
kami yang bahagia
menyaksikan sebait kenangan favorit
lengkungan jembatan di kejauhan
(sepasang kekasih berlarian dalam hujan
cantik-manis seperti dalam klip lagu Peterpan)
akhirnya dapat juga
kami makan malam bersama
di ruang yang lengang
sepasang kursi yang jenjang
senja sedang indah-indahnya
habis sembahyang
sekristal air turun
di sela-sela sisa sujudnya
kami yang sukacita
berkilah dari hidup yang rumit
menumpang pedati yang berderit
(sekelebat ingatan bertemperasan
halus-lembut macam lirik lagu Eagle)
akhirnya, senja
dapat juga kita berpeluk-mesra
sebagai orang dewasa
yang cintanya selalu meremaja
(2007—9)
SEJUMLAH TEMPAT,
BAYANGANMU SEKELEBAT
/1/ Bandara
di gerbang mana engkau menunggu?
sudah kukenakan rindu
agar tak salah bila engkau menjemputku
/2/ Cisangkuy
alangkah bergairah: kata
alangkah indah: kita
/3/ Kafe
sejak kapan kita saling terpikat?
aku tak ingat, katamu
kenanganku pun telah lama sesat, kataku
Lalu, apa rindu ini perlu?
/4/ Kamar
aduhai, percakapan yang berderai hingga fajar
tak ingin kupergi lagi
ingin di sini, abadi
/5/ Kawah
apa yang kucium selain dendang parfum:
uap belerang melayang
setumpuk catatan
— sungguh hanya satu perjumpaan
/6/ Kereta
aku berangkat, kakak
ke sebuah negeri
tempat gelisah tak ada lagi
di manakah itu, adik?
ingin pula negeri itu kukunjungi
ah, maafkan kakak
aku terlelap tadi
/7/ Laut
luasmu tak ingin kuduga
dalammu tak hendak kukira
/8/ Pantai
apa yang terukir selain risalah pasir
dan kepiting berlari menyisir?
/9/ Rest Area
mungkin kamu cuma singgah
atau istirah
tapi, tak ada alasan untuk tak setia, bukan?
/10/ Rumah Tingkat
tetap saja hampa
denganmu aku
tak jua berjumpa
/11/ Toko Buku
dan engkau menggamitku
tapi hujan tak mau ‘nunggu
runtuhkan huruf-huruf rindumu
/12/ Tol Cipularang
bahkan dari perjalanan sebentar
rasa sayang dapat dikekalkan
/13/ Tukang Rujak
apa yang tercecap selain bibirmu?
mengunyah pedas
dan waktu terlalu bergegas
(2007)
(Dimuat di Harian Jurnal Nasional, Minggu, 31 Mei 2009)
13 April 2009
KESAN KESAHAJAAN DALAM "ALBUM BUAHHATIKU"

Esai Eko Putra
Membaca kumpulan sajak atau sebuah antologi, atau membaca sajak-sajak seorang penyair di media massa. Bagi pembaca awam seperti saya, hal pertama yang akan saya rasakan setelah membacanya adalah menangkap kesan paling sederhana yang dapat saya ambil. Lalu memberikan pemahaman baru sebagai suatu komunikasi dan interaksi antara bahan bacaan dengan saya.
Dalam pada itu, apakah sajak-sajak tersebut menjadi ingatan terus-menerus berada dalam memori otak saya. Selanjutnya tak segan-segan saya jadikan kutipan-kutipan ketika berbincang bersama teman-teman, menjadikannya ungkapan-ungkapan bijak yang digunakan dalam komunikasi, atau menjadi kalimat puitis bagi pacar saya.
Dan bisa saja sebaliknya. Setelah membaca kumpulan sajak penyair. Bukan tidak mungkin saya kelelahan, kebingungan, kurang berkesan, atau saya merasa kesulitan memahami maknanya. Kemudian saya tinggalkan begitu saja tanpa meninggalkan kesan mendalam, dan tidak termemori dalam fail otak saya. Walaupun, kumpulan sajak yang saya hadapi karya seorang master penyair. Tentu saja, ketidakberkesanan ini bukan serta-merta dikarenakan kemalasan saya sebagai pembaca, untuk memahami lebih jauh. Hal ini pun, dibarengi dengan keterbatasan ilmu yang saya miliki tentang persajakan itu sendiri. Sehingga makna-makna besar yang tersembunyi di balik sajak belum dapat saya temukan sebagai kesan.
***
Saya membaca sebuah buku kumpulan sajak yang berjudul Album Buahhatiku (AB). Buku yang diterbitkan pertama kali oleh PT Paramaartha Maju, Bandung (2007).
Ditulis oleh Ready Susanto, penyair kelahiran Palembang, 25 Desember 1967, sekarang menetap di Bandung, dan bekerja sebagai editor beberapa penerbit di Jakarta dan Bandung. Secara rinci AB memuat sepilihan sajak yang ditulis oleh penyair dalam kurun 1991-2007. terbagi dalam tiga subjudul, yakni Album Buahhatiku terdiri 16 sajak, Cuplikan Buku Harian ada 20 sajak, dan Wilayah Kabut berisi 18 sajak. Total sajak yang termaktub dalam buku ini berjumlah 54 sajak.
Sebagaimana disebutkan di awal tulisan ini, yang saya tuliskan adalah kesan apa dapat saya ambil setelah membaca buku Album Buahhatiku ini. Hal yang dapat saya katakan dengan kemampuan yang terbatas dan keawaman yang awas, bahwa sajak-sajak Ready Susanto jernih, memikat, bersahaja, dan bernas. Ready Susanto tidak memberikan hamparan kata-kata yang sulit untuk dipahami, membaca sajak-sajaknya seolah membaca petuah-petuah bijak yang dapat dicerna secara langsung diterima oleh logika rasio. Kesan apa adanya, kesahajaan komunikasi yang ditampilkannya telah memberikan interaksi yang baik kepada pembacanya. Sehingga kebingungan untuk menarik kesimpulan dan makna, tidak terjadi bagi saya. Dalam melukiskan kenangan misalnya, Ready Susanto mengungkapkannya dengan frasa-frasa bersahaja, jernih, lembut, dan secara langsung dirasakan. Sebagaimana sajak berikut ini:
Di Kubur Cik
- lagu kematian yang terlambat
waktu dunia telah berhenti
bagimu, tetapi kenangan tak
pernah lekang bagitu saja,
cinta tak pernah pergi
hanya karena kematian
datang suatu pagi
(1992)
Pesan Sepekan 6
/6/ Kamis, 07/09/06
betapa nyeri mengatakan
yang tak ingin dikatakan
betapa sakit mengenangkan
yang tak ingin dikenangkan
(2006)
Kedua sajak yang saya ambil dari AB di atas, terasa begitu jernih, dan tidak menghadirkan diksi-diksi dengan kadar sense of difficulty sehingga komunikasi yang diberikan oleh Ready Susanto dapat secara langsung diterima oleh rasio logika. Dan terlihat dengan jelas, Ready Susanto lebih mementingkan suatu komunikasi terjadi dengan baik antara dia sebagai penyair, kemudian ditransformasikan kedalam sajaknya dan diterima oleh pembaca dengan baik pula.
Kesahajaan lain pun, digambarkan oleh penyair tetap terasa dalam sajaknya tentang perjalanan hidup yang ditulisnya berikut ini:
Usia 39
debu
cuma debu
di depan-Mu
(2006)
Lain dari pada itu, saya cukup menikmati sajak-sajak yang termaktub dalam AB. Terlebih lagi, sajak “Album Buahhatiku” yang dituliskan untuk putrinya, “Tiga Pucuk Pesan Jelaga” yang ditulis untuk penyair Hasan Aspahani, “Rindu”, dan ah... keseluruhannya bisa saya jadikan kutipan untuk bahan perbincangan dengan teman-teman atau mungkin ungkapan-ungkapan untuk pacar. Aha…
Terlepas dari urusan rima, ritma, diksi, bait, citra, dan segala unsur pembangun sajak yang saya terima di ruang kelas. Sajak-sajak Ready Susanto telah memberikan kesan yang dalam di memori otak saya. Begitulah kiranya!
Sekayu, 21 Maret 2009
(Tulisan ini dimuat di Rubrik "Jeda" Harian Berita Pagi, Palembang, Minggu, 3 Mei 2009)
17 March 2009
WILAYAH KEHIDUPAN SPIRITUAL DAN BAHASA EKSPRESI PENYAIR

Esai Eko Putra
Penyair mengangkat gambaran kehidupan dengan segala pergulatannya terhadap kehidupan itu sendiri, dan mencatatnya dalam puisi. Sadar atau tidak sadar, ketika sebuah puisi lahir dari tangan penyair, terdapat tiga wilayah kehidupan manusia yang selalu mengilhami seorang penyair untuk mencatatnya dalam puisi.
Ketiga wilayah yang dimaksud adalah ; Wilayah kehidupan individual, artinya puisi berkenaan dengan kehidupan manusia (baca: penyair) terhadap dirinya sendiri sebagai penyair. Wilayah kedua adalah wilayah kehidupan sosial, dalam hal ini puisi akan berkenaan antara kehidupn sosial penyair terhadap lingkungannya. Baik hubungan terhadap sesama manusia, maupun hubungan antara alam sekitarnya. Dan wilayah ketiga adalah wilayah kehidupan spiritual, artinya puisi berkenanan dengan bagaimana seorang penyair membangun hubungannya terhadap kekuatan besar yang berada di luar kekuatannya sebagai manusia (penyair) dengan orientasi menuju suatu hakikat yang disebut sebagai Tuhan. Tuhan dalam konsep keyakinan dan pergulatan masing-masing seorang penyair. Tentunya dengan bahasa ekspresi masing-masing penyair itu sendiri, yakni suatu cara bagaimana seorang penyair mengangkat dan mengungkapkan renungannya kedalam sebuah puisi.
***
Di dalam tulisan ini, saya hanya memfokuskan satu dari tiga wilayah yang saya sebutkan sebelumnya. Yakni wilayah kehidupan spiritual yang diungkapkan dalam sebuah puisi.
Membicarakan kehidupan spiritual artinya membicarakan suatu konteks bagaimana seorang manusia membangun hubungannya terdadap suatu zat hakiki yang mempengaruhi jalannya kehidupan. Seperti yang saya sebuatkan tadi, yakni orientasi suatu hal yang disebut sebagai Tuhan, yang kemudian ditrasformasikan kedalam puisi. Dan akan tergambar dalam puisinya, bagaimana kehidupan spiritual seorang penyair apakah ia melakukan pencarian, penolakan, pengabdian, keraguan, dan lain sebagainya, akan digambarkan lewat bahasa ekspresi dalam puisinya. Tentunya hal ini akan sesuai dengan cara masing-masing seorang penyair dalam mengungkapkan, dan banyak hal yang mampu ditransformasikan kedalam sebuah puisi, misalnya ; aspek cultural, anatomi tubuh, setting lingkungan, simbol-simbol dan banyak hal lainnya.
Sebagai contoh penggalan bait puisi Tirtagangga Wayan Sunarta, penyair Bali kelahiran Denpasar 22 Juni 1975. Dia mengekspresikan renungan spiritualnya dengan setting kultural yang sangat erat dengan nuansa Bali-nya.
hamba tepekur
di pelataran paduka ratu
menghayati sepi yang tiba tertatih
merambati jiwa yang telah paripurna
paduka ratu junjungan hamba
mesti berapa penjelmaan lagi hamba lalui
untuk sampai pada jiwamu
2006
(Halaman 120, Kumpulan Puisi Wayan Sunarta IMPIAN USAI. KUBU SASTRA, Denpasar, Agustus 2007)
Pembaca akan menemukan dalam penggalan bait puisi di atas, bagaimana nuansa bali tergambar begitu erat dalam ekspresi spiritual Wayan Sunarta. Ia tuliskan hamba tepekur/di pelataran paduka ratu. Bagaimana konsep tuhan ia ungkapkan sebagai seorang ratu, seorang wanita. Tentunya Wayan Sunarta sebagai penyair laki-laki luapan perasaan cintanya ditujukan terhadap wanita. Dan bagaimana keyakinan masyarakat Bali terhadap Punarbhawa yaitu keyakinan bahwa manusia akan lahir kembali setelah mati dan menjalani kehidupan baru, ia ungkapkan mesti berapa penjelmaan lagi hamba lalui/ untuk sampai pada jiwamu. Begitulah nuansa kultural dalam ungkapan Wayan Sunarta dalam bahasa ekspresi dalam wilayah spiritual yang direnunginya.
Berbeda dengan Wayan Sunarta, Penyair Bandung kelahiran Palembang 25 Desember 1967, Ready Susanto. Jikalau Wayan Sunarta menggunakan nuansa kultural sebagai ekspresinya dalam kehidupan spiritualnya. Ready Susanto hanya mencatat renungannya dengan metafor dan bahasa yang sederhana, namun begitu segar dengan frasa cukup memikat dan bernas. Seperti yang ditulisnya dalam puisi berikut ini.
Pengembara 4
tutup sajalah semua pintu
biarkan
sampai datang dan kuketuk
(kalau pun tak terbuka
aku akan masuk
lewat hati)
hati-Mu
Bandung, 25-05-87
(Surat-Surat dari Kota, Ready Susanto, Bejana. Bandung. Mei 2006)
Puisi singkat di atas dengan metafor “pintu” mengungkapkan perjalanan spiritual penyair. Bagaimana ia mencari jalan untuk menuju penciptanya melalui “pintu”. Mengapa pintu, ada apa dengan pintu. “Pintu” adalah cara seseorang untuk masuk dan berteduh dalam sebuah “rumah”. Dan penyair pun menulis, bagaimana kalau pintu tak terbuka, maka cara lain untuk menjumpai Dia adalah masuk lewat hati, hati-Mu. Duh, ketika seseorang membicarakan hati, bagaimana hati adalah suatu hal yang paling sensitif apalagi zat hakiki yang Maha Pemurah.
Pun juga berbeda lagi dengan bahasa ekspresi Penyair Sumsel kelahiran Medan 14 Juni 1960, Anwar Putra Bayu. Jika Wayan Sunarta menggunakan nuansa kultural, Ready Susanto cukup bermain metafor, ia menuliskan bahasa ekspresi kehidupan spiritualnya lewat simbol-simbol sufistik agama dari keyakinan yang dianut olehnya. Sebagaimana puisinya di bawah ini.
Dalam Masjid (2)
Ada yang telah hilang
di sini, diri sendiri
lalu diri itu menjelma
di dinding-dinding pualam
ia berjalan lewat biji-biji
tasbih, malaikat-malaikat turun
dan sembunyi di tiang-tiang
di sana, ia bermain tekapan
carilah tak jauh darimu
sedepa dari tiang-tiang
dan sebutlah ; Allah, Allah
di sini
1995
(Pada Akhirnya. Anwar Putra Bayu. Hikayat Publishing. Yogyakarta. Januari 2007)
Dalam puisi di atas tampak jelas sekali, bagaimana si penyair merangkai simbol-simbol yang berada di dalam masjid menjadi suatu renungan yang padu dan sangat terasa kejernihan pergulatan spiritualnya. Bagaimana jiwa seorang penyair benar-benar teduh di dalam masjid, dan merasakan sesuatu yang tenang namun penuh gejolak. Dan nampaklah bahwa penyair menyadari ada kekuatan yang mampu membuatnya menjalani kehidupan, yakni Tuhan, dan sebutlah ; Allah, Allah/di sini ungkapnya.
Dan begitu pula berbedanya bahasa ekspresi penyair-penyair lain, bagaimana ia puisinya mengungkapkan pergulatan spritualitasnya. Ia transformasikan dengan caranya sendiri, seperti halnya “DukaMu Abadi” Sapardi Djoko Damono, “PadaMu Jua” Amir Hamzah, “ Doa” Chairil Anwar, atau puisi-puisi Jalaluddin Rumi, Muhammad Iqbal, D Zawawi Imron, Jamal D Rahman, dan masih banyak lagi penyair-penyair lain yang mengungkapkan bahasa ekspresinya tentang kehidupan spiritualnya, baik itu berupa pencarian, pengabdian, penolakan, pemberontakan, dan lain sebagainya. Sehingga ekspresinya itu menjadi label tersendiri bagi seorang penyair. Sudah barang tentu pula akan berbeda ketika saya berekspresi dengan bahasa menulis sebuah puisi, sesuai dengan cara saya sendiri.
Dan banyak sudut pandang yang dapat digunakan penyair untuk mengekspresikan kehidupan spiritualnya. Tergantung bagaimana penyair itu sendiri mentransformasikan keadaan di sekeliling menjadi bahasa ekspresinya yang jernih, bernas, dan tanpa mengumbar-ngumbar bahasa gombal yang dangkal tentang konsep ketuhanan. Mengkombinasi baris puisi Anwar Putra Bayu dan Chairil Anwar.
“pada akhirnya/aku tidak bisa berpaling”
(Sumber: Blog Eko Putra, juga dimuat di Sumatera Ekspress, Minggu, 15 Maret 2009)
18 February 2009
PETUALANGAN GUNAWAN MARYANTO
11 February 2009
KARNO PICNIC, SONI MEMETIK BINTANG
06 February 2009
BAHAYA LATEN ASLAN, BIRAHI DINO
27 January 2009
DUA PERCAKAPAN
/1. hujan/
jika ingin kenal
nama lain dari hujan
(apalagi nama aslinya)
jangan kau tanya penyair tua
(apalagi yang muda dan manja)
pahami saja Bunda
yang tahu alangkah banyaknya
nama alias dari cinta
/2. senja/
jika ingin pasti
warna asli senja
(selain jingga,
atau merah, atau kuning?)
jangan kau tanya
penyair yang baik matanya
(apatah lagi yang rabun dan berkacamata)
mengerti saja Bunda
yang begitu kaya paduan
warna cintanya
Gumuruh, 22 Januari 2009
31 December 2008
SINTA
sepucuk kata cinta
“culik lagi aku Kanda!”
November 2006-November 2008
24 December 2008
DI KOMPAS ONLINE

Beberapa sajakku di Kompas Online. Klik www.kompas.com/read/xml/2008/12/16/19271728/sajak-sajak.ready.susanto
FATHIA
9 Mei-November 2008
Subscribe to Posts [Atom]









